Minggu, 26 Oktober 2014

JURNAL
MEMAHAMI DAN MEMBUAT INSTRUMEN EVALUASI TES

Siti Masitoh, Septy Mayarosita, Enok Rokayah dan Lista Faizah, Mahasiswi FTK IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, itohpgmi@yahoo.com, septy.mayarossita@gmail.com, nokalfidhah@gmail.com, faizah_lista@yahoo.co.id.

Abstrak
            Evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran. Hasil yang diperoleh dari evaluasi dapat dijadikan balikan (feed-back) bagi guru dalam memperbaiki dan menyempurnakan program dan kegiatan pembelajaran. Evaluasi meliputi semua aspek batas belajar. Menurut Schwartz dan kawan-kawannya, penilaian adalah suatu program untuk memberikan pendapat dan penentuan arti atau faedah suatu pengalaman. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah pengalaman yang diperoleh berkat proses pendidikan. Untuk dapat mengevaluasi atau menilai, ada banyak instrumen yang dapat digunakan dalam kegiatan evaluasi. instrumen adalah alat ukur yang dapat digunakan untuk mengukur dalam rangka pengumpulan data. Salah satunya adalah tes. istilah “tes” berasal dari bahasa Prancis, yaitu “testum”, berarti piring yang digunakan untuk memilih logam mulia dari benda-benda lain, seperti pasir, batu, tanah dan sebagainya. Dalam perkembangannya istilah tes diadopsi dalam psikologi dan pendidikan. Tes ini banyak digunakan untuk mengukur prestasi belajar peserta didik dalam bidang kognitif, seperti pengetahuan, pemahaman, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Tes adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan. Alat ini dapat berbentuk tugas atau  pekerjaan yang harus dikerjakan dan dapat pula pertanyaan-pertanyaan atau soal yang harus dijawab.  Sebagai alat ukur dalam proses evaluasi, tes harus memiliki dua kriteria, yaitu kriteria validitas dan realibilitas.
Kata kunci: Evaluasi, Instrumen dan Tes.
Abstract
            Evaluation is one of the essential components and steps that must be taken by the teacher to determine the effectiveness of learning. The results of the evaluation can be used as feedback (feed-back) for teachers to improve and enhance programs and learning activities. Evaluation covers all aspects of learning boundaries. According to Schwartz and his friends, is an assessment program to provide opinions and the determination of the meaning or avail an experience. What is meant by experience is the experience gained thanks to the educational process. To be able to evaluate or judge, there are many instruments that can be used in the evaluation. instrument is a measuring tool that can be used to measure in the framework of data collection. One is a test. the term "test" is derived from the French language, namely "testum", means that plate which is used to choose the precious metals from other objects, such as sand, stone, soil and so on. In development terms the test adopted in psychology and education. This test is widely used to measure the learning achievement of students in the areas of cognition, such as knowledge, comprehension, application, analysis, synthesis and evaluation. The test is a tool or procedure used. This tool can be in the form of a task or job to be done and also the questions or questions that must be answered. As a measuring tool in the evaluation process, the test must have two criteria, namely the validity and reliability criteria.
Keywords: Evaluation, Instruments and Test.





Pendahuluan
            Pendidikan adalah sebuah sistem yang terdiri dari: tujuan, proses belajar dan prosedur evaluasi. Salah satu komponen yang harus dikuasi oleh guru adalah evaluasi pembelajaran. Komponen ini sejalan dengan tugas dan tanggung jawab guru dalam pembelajaran, yaitu mengevaluasi pembelajaran termasuk didalamnya melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar. komponen tersebut sejalan pula dengan instrumen penilaian evalusai pembelajaran. Banyak alat atau instrumen yang dapat digunakan dalam kegiatan evaluasi. Selain menggunakan teknik non tes, evaluasi juga menggunakan teknik tes. Berbarengan dengan hal tersebut, maka kelompok kami berniat untuk membuat jurnal ini tentang memahami dan membuat teknik evaluasi tes. Di dalam jurnal ini kami akan membahas tentang pengertian teknik evalusi tes, macam-macam teknik evalusai tes dan bentuk tes evalusi beserta contoh tesnya. Oleh karena itu, Harapan kami semoga jurnal ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi jurnal ini, sehingga kedepannya dapat lebih baik.
 








MEMAHAMI DAN MEMBUAT INSTRUMEN EVALUASI TES

Pengertian Teknik Evaluasi Tes
untuk dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pendidikan dan pengajaran perlu dilakukan usaha atau tindakan penilaian atau evaluasi.
Apa yang dimaksud dengan evaluasi? Ada beberapa pengertian mengenai evaluasi. Wand dan Brown (1957) mendefinisikan evaluasi sebagai “refer to the act or process to determining the value of something” evaluasi mengacu kepada suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu yang dievaluasi.[1]
            Sejalan dengan pendapat tersebut Guba dan Lincoln mendefinisikan evaluasi itu merupakan suatu proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan (evaluand). Sesuatu yang dipertimbangkan itu bisa berupa orang, benda, kegiatan, keadaan atau sesuatu kesatuan tertentu (Hamid Hasan 1988).
            Menurut Achmad Sanusi evaluasi adalah proses penilaian yang sistematis, yang mencakup pemberian nilai, atribut, apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi.[2]
            Sedangkan menurut kamus besar Indonesia evaluasi memiliki arti “penilaian” yang secara luas memiliki pengertian sebagai suatu proses sistematis yang mengandung pengumpulan informasi, menganalisis dan menginterpretasi informasi tersebut untuk membuat keputusan-keputusan. Seiring dengan dinamika pemikiran manusia, evaluasi telah di gunakan dalam berbagai aspek kehidupan.Artinya, tidak hanya evaluasi intelegensi, namun juga pada kepribadian, sikap, minat, ingatan, keterampilan dan juga pada evaluasi pendidikan dan pengajaran. Dalam dunia pendidikan evaluasi yang dimaksud adalah evaluasi prestasi belajar siswa setelah melakuakn suatu proses pembelajaran. Atau juga dapat diartikan sebagai suatu tindakan penilaian guru pada siswa setelah mengikuti proses pembelajaran, baik sebagai produk maupun proses yang bertujuan menseleksi, mendiagnosa, menempatkan dan mengukur keberhasilan.
            Dari pengertian diatas dapat diartikan bahwa evaluasi pembelajaran adalah suatu proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk menentukan pencapaian hasil belajar peserta didik. Pencapaian tersebut dilihat dari segi kompetensi peserta didik yang secara berkelanjutan terlibat dalam suatu proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
            Munculnya kata “test” berasal dari bahasa yunani kuno yakni “testum” yang artinya piring untuk menseleksi atau memisahkan mana logam yang mulia dan mana yang tidak. Memisahkan yang mulia dengan yang tidak tentunya membutuhkan kecerdasanintelektual, sehingga pada awalnya testtum hanya untuk membedakan tingkat jika dikaitkan dengan pelajaran berarti bagaimana guru dapat memisahkan mana siswa yang baik atau cerdas dengan siswa yang kurang cerdas.(thoifuri, 2007:184).[3]
            Pengertin test secara luas dapat diartikan sebagai suatu alat pengukuran yang berupa pertanyaan, perintah,dan petunjuk yang ditunjukan kepada testee untuk mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu.
            Tes adalah teknik penilaian yang biasa digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dalam pencapaian suatu kompetensi tertentu, melalui pengolahan secara kuantitatif yang hasilnya berbentuk angka. Berdasarkan angka itulah selanjutnya ditafsirkan tingkat penguasaan kompetensi siswa. Proses pelaksanaan tes dilakukan setelah berakhir pembahasan satu pokok bahasan, atau setelah selesai catur wulan atau satu semester. Dilihat dari fungsinya, tes yang dilaksanakan setelah selesai satu catur wulan atau semester, dinamakan tes sumatif. Sedangkan tes yang dilaksanakan setelah selesai proses belajar mengajar atau mungkin setelah satu pokok bahasan dinamakan sebagai tes formatif.
            Tes adalah sejumlah pertanyaan yang di ajukan oleh evaluator secara lisan atau tertulis yang harus dijawab oleh peserta tes ( testtee ) dalam bentuk lisan atau tulisan pula.[4]
            Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian Teknik Evaluasi Tes adalah suatu proses penilaian yang sistematis yang didalamnya ada sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh evaluator (guru) secara lisan atau tulisan yang harus dijawab oleh peserta didik dalam bentuk lisan atau tulisan pula.
Macam-Macam Teknik Evaluasi Pembelajaran
            Hendyat Soetopo membagi tes hasil menjadi 6 (enam) jenis pembagain, yaitu Pertama, Pembagian menurut sifatnya, tes dapat dikelompokan menjadi: a) Tes verbal yaitu tes yang menggunakan bahasa sebagai alat untuk melaksanakan tes. Tes verbal terdiri dari tes lisan dan tes tulisan. b) Tes non verbal yaitu tes yang tidak menggunakan bahasa sebagai alat untuk melaksanakan tes, tetapi menggunakan gambar, tugas dan sebagainya.
            Kedua, Pembagian menurut tujuannya, tes dapat dikelompokan menjadi: a) Tes bakat (Aptitude Test) yaitu tes yang digunakan untuk menyelidiki bakat seseorang. Tes bakat biasanya digunakan untuk mengetahui kemampuan dasar yang bersifat potensial. b) Tes intelegensi (Intelligence Test) yaitu tes yang dilakukan untuk mengetahui kecerdasan seseorang. c) Tes prestasi belajar (Achievement Test) yaitu tes yang dilakukan untuk mengetahui prestasi seseorang murid dari mata pelajaran yang telah diberikan. Melalui tes ini guru dapat mengetahui apakah pelajaran yang diberikan mencapai tujuan sesuai dengan target yang telah ditentukan. d) Tes diagnostik (Diagnostic Test) yaitu tes yang digunakan untuk menggali kelemahan atau problem yang dihadapai murid, terutama kelemahan yang dialami murid dalam belajar. e) Tes sikap (Attitude Test) yaitu tes untuk mengetahui sikap seseorang murid terhadap sesuatu. f) Tes minat yaitu tes yang digunakan untuk mengetahui minat murid terhadap hal-hal yang disukai. Melalui tes ini dapat diketahui apa yang disukai murid.
            Ketiga, Pembagian menurut pembuatannya, tes dapat dikelompokan menjadi: a) Tes terstandar (Standart Direct Tast) yaitu tes standar atau tes yang dibakukan mengandung prosedur yang seragam untuk menentukan nilai dan administrasinya. Tes standar bisa membandingkan kemampuan murid dengan murid lain pada usia atau level yang sama, dan dalam kasus perbandingan ini dilakukan ditingkat nasional. Tes standar mencakup berbagai materi yang lazimnya diajarkan dikebanyakan kelas. Tes standar yang penyusunannya telah melalui proses penggunaan patokan-patokan tertentu dan memiliki aturan umum serta telah diuji validitas dan reabilitasnya. Biasanya tes ini dibuat oleh sekelompok yang ahli di bidang pembuatan tes. b) Tes buatan guru (Teacher Made Test) yaitu tes buatan guru cenderung difokuskan pada tujuan instruksional untuk kelas tertentu. Tes buatan guru adalah tes yang dibuat oleh guru untuk kepentingan prestasi belajar.
            Keempat, Pembagian menurut bentuk soalnya, tes dikelompokan menjadi: a) Tes uraian (Essay Test) yaitu tes yang bentuk soalnya sedemikian rupa sehingga memberi kesempatan pada murid untuk menjawab secara bebas dengan uraian. Tes ini menuntuk kemampuan murid untuk mengorganisasi dan merumuskan jawaban dengan menggunakan kata-kata sendiri. Bentuk tes ini terdiri dari uraian bebas (Free Essay Test) dan uraian terbatas (Limited Essay Test). b) Tes obyektif  (Objective Test) yaitu tes yang bentuk soalnya hanya memerlukan jawaban singkat sehingga tidak memungkinkan murid menjawab secara terurai. Dalam tes obyektif maka tugas murid hanya memilih di antara kemungkinan jawaban yang telah disediakan, memberi jawaban singkat atau mengisi titik-titik yang telah disediakan.

Berdasarkan pada cara mengerjakan soal, maka tes obyektif dapat digolongkan menjadi dua yaitu: 1) variasi di mana testee harus mensuplai jawabannya sehingga hampir tidak berbeda dengan essay test. misalnya bentuk completion test (melengkapi) dan the short answer (jawaban singkat). 2) , variasi di mana tesstee hanya memilih di antara jawaban yang telah disediakan bersama solnya. Pada variasi ini ada lima bentuk tes, di man testee harus: Pertama, menyatakan apakah suatu pernyataan itu benar atau salah (true false); Kedua, memilih jawaban yang paling benar (the best answer); Ketiga, menjodohkan dua rentetan kata-kata yang tersedia sesuai dengan jawaban yang benar (matching test); Keempat, memilih di antara alternatif-alternatif jawaban yang disediakan untuk setiap soal (multiple choice); Kelima, mengelompokan jawaban yang sesuai dengan klasifikasi masing-masing (classification). [5]
             
            Kelima, Ditinjau dari obyek yang dites, maka tes dikelompokan menjadi: a) Tes individual yaitu suatu tes yang dalam pelaksanaannya memerlukan waktu yang cukup panjang (untuk waktu yang sama penguji hanya dapat mengetes seorang calon). b) Tes kelompok yaitu tes yang dilakukan terhadap beberapa murid dalam waktu yang sama.
            Sedangkan dilihat dari jenisnya, test dibagi kedalam empat jenis test. Yaitu sebagai berikut; 1) Test penempatan (placement test), test ini disajikan pada awal tahun pelajaran untuk mengukur kesiapan siswa dan mengetahui tingkat pengetahuan yang telah dicapai sehubungan dengan pelajaran yang akan disajikan. Demikian, siswa dapat ditempatkan pada kelompok yang sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimiliki. 2) Test formatif (formative test), test ini dapat dilakukan ditengah-tengah program pendidikan untuk memantau kemajuan belajar peserta didik dan pendidik. Berdasarkan hasil test itu pendidikan dapat mengetahui apa yang masih perlu dijelaskan kembali agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran yang lebih baik. 3) Tes diagnostic (diagnostic test), test diagnostic bertujuan mendiagnosis kesulitan belajar siswa untuk mengupayakan perbaikannya. Dalam mendiagnosis kesulitan belajar siswa pendidikan harus terlebih dahulu menhetahui bagian mana dari pendidikan yang memberikan kesulitan belajar pada peserta didik. 4) Test sumatif (summative), jenis test ini disajikan pada peserta didik pada akhir tahun pelajaran atau akhir suatu jenjang pendidikan yaitu pada akhir caturwulan atau smester. Oleh karena itu, test ini dimaksudkan untuk memberikan nilai yang menjadi dasar penentuan kelulusan dan atau pemberian sertifikat bagi yang telah menyelesaikan pelajaran dengan hasil yang baik.
Bentuk Tes dalam Evaluasi
            Ada beberapa bentuk tes dalam mengevaluasi suatu pembelajaran diantaranya adalah Pertama, Tes Subyektif (essay test) merupakan teknik evaluasi yang mana pemberian skor dan nilai jawaban dilakukan sesuai interpretasi siapa yang melakukan penskoran, penilain dan evaluasinya mengacu kepada kunci jawaban yang telah disediakan. Tes subyektif terbagi menjadi: a) Tes uraian bebas adalah bentuk soal tes dimana siswa diberi kesempatan untuk menjawab secara bebas, yaitu tidak terikat oleh suatu teori tertentu. Dalam tes uraian bebas jawaban siswa tidak dibatasi, bergantung pada pandangan siswa itu sendiri. Hal ini disebabkan oleh isi pertanyaan uraian bebas sifatnya umum. b) Tes uraian terikat atau terbatas adalah bentuk tes soal dimana siswa menjawab berdasarkan suatu teori tertentu. Dalam tes uraian terbatas ini pertanyaan telah di arahkan kepada hal-hal tertentu atau ada pembatasan tertentu seperti, dalam segi ruang lingkupnya, sudut pandang jawabannya, atau indikator-indikatornya. c) tes uraian berstruktur adalah serangkaian soal jawaban singkat sekalipun bersifat terbuka dan bebas menjawabnya.
Soal yang berstruktur berisi unsur-unsur yaitu pengantar soal, seperangkat data dan serangkaian sub soal. Soal yang berstruktur berisi unsur-unsur (a) pengantar soal, (b) seperangkat data, dan (c) serangkaian sub soal.[6]
Contoh tes uraian bebas:
Bagaimana perkembangan komputer di indonesia, jelaskan dengan singkat!
Bagaimana peranan komputer dalam dunia pendidikan?
Apa yang kamu ketahui tentang aqidah islam?
Contoh tes uraian terikat atau terbatas:
Sebutkan lima komponen dalam sistem komputer!
Jelaskan bagaimana prosedur operasional sebuah pesawat komputer!
Sebutkan 3 faktor penyebab kemunduran umat islam!
Contoh tes uraian berstruktur
Ahmad selalu berkata apa adanya. Menjaga dengan baik tas dan buku-buku yang dititipkan Rahmat. Selalu menjalankan perintah sholat. Berdasarkan pertanyaan diatas:
a.                   Jelaskan tiga perilaku terpuji yang dilakukan oleh Ahmad!
b.         Tuliskan masing-masing satu ayat Al-Qur’an tentang tiga perilaku                           terpuji  Ahmad di atas!
            Kedua, Tes Obyektif merupakan tes yang  jawabanya hanya salah atau benar dan skornya antara 1 atau 0. Tes obyektif ini terdiri dari beberapa bentuk yaitu a) Bentuk salah benar, yaitu soal tes yang memerintahkan siswa untuk menjawab hanya dua pilihan, betul atau salah. b) Bentuk pilihan ganda, yaitu soal tes dimana siswa diberi jawaban mungkin tiga, empat atau lima jawaban untuk memilih salah satu yang benar. c) Bentuk melengkapi, yaitu bentuk soal tes yang memerintahkan siswa untuk melengkapi suatu pertanyaan dalam suatu paragraf dimana terdapa kata yand dibuang sehingga menjadi lengkap. d) Bentuk menjodohkan, yaitu bentuk soal tes yang memerintahkan siswa untuk menjawab pertanyaan berdasarkan jawaban yang sudah ada didampingnya.
Contoh tes bentuk salah-benar
            Di bawah ini terdapat sejumlah pernyataan yang mengandung dua kemungkinan jawaban, benar atau salah. guru diminta untuk menentukan pilihan dari setiap pernyataan tersebut, benar atau salah. jika benar tulislah tanda tambah (+), sebaliknya jika salah tulislah tanda (O) di depan nomor masing-masing pernyataan itu. Berikut adalah cara mengerjakan soalnya
+          (1) Surat Al-Fatihah termasuk surat makiyyah
O                     (2) Surat Al-Fatihah disebut juga suratUmmul Kitab atau Ummul Quran
O                     (3) Nun mati bertemu dengan huruf alif  hukumnya ikhfa
+          (4) Nun mati bertemu dengan huruf ta hukumnya ikhfa.
Contoh benar-salah lainnya seperti:
B-S      Kemanusiaan yang adil dan beradab merupakan sila kelima dari                               Pancasila.
Contoh tes bentuk pilihan ganda
Berbagai komponen yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi disebut...
a.  Program
b. Sistem
c.  Data
d.                   Operation
Berikut ini adalah gerakan dasar mouse, kecuali...
a.  Menunjuk
b. Mengklik
c.  Menghapus
d.                   Menggeser

Contoh tes bentuk melengkapi
Program dan data dapat disimpan dalam... atau ...
Fungsi utama mouse adalah untuk meletakan... dan memilih...

Contoh tes bentuk menjodohkan
Petunjuk: dibawah ini terdapat dua daftar nama, sebelah kiri adalah pengertian, sedangkan sebelah kanan adalah istilah. Pilihlah pengertian tersebut sesuai dengan nama konsepnya dengan menuliskan angka 1,2,3 dan seterusnya pada tempat yang telah disediakan.

Pengertian:                                                                              Istilah
.............: Alat penyimpan data                                                1. Monitor
.............: Alat pemantau                                                          2. Printer
.............: Papan ketik                                                              3. Keyboard
.............: Alat pencetak data                                                   4. Flash Disck

            Ketiga, Tes Lisan merupakan tes yang menuntut jawaban dari peserta didik dalam bentuk lisan. Tes lisan dapat berbentuk seperti seorang guru menilai seorang peserta didik, seorang guru menilai sekelompok peserta didik, sekelompok guru menilai seorang peserta didik dan sekelompok guru menilai sekelompok peserta didik.  Ada beberapa hal yang harus mendapat perhatian dalam pelaksanaan test lisan. a) Pertahankan situasi evaluasi dalam pelaksanaan tes lisan. Guru harus menyadari bahwa evaluasi adalah untuk mendapatkan gambaran prestasi belajar yang di capai murid. Jangan sekali-kali mengubah situasi tes menjadi mnjadi suatu diskusi. b) Janganlah guru membentak-bentak seorang murid karena murid tersebut memberikan jawaban yang menurut penilaian guru merupakan jawaban yang sangat tidak baik.

Pembuatan Tes dalam Evaluasi
            Berdasarkan pembuatan tes tersebut ada dua macam tes buatan yaitu tes non standar atau tes buatan guru dan tes standar. Tes non standar atau tes buatan guru adalah tes yang di buat oleh seorang guru tanpa bantuan tim ahli. Tes ini sering tidak tersusun dengan baik, belum sempat dianalisis dan tidak dipertanggungjawabkan baik validasi maupun reliabilitasnya. Kegunaan tes yang dibuat guru adalah: 1) Untuk menentukan seberapa baik siswa telah menguasai bahan pelajaran yagdiberikan dalam waktu tertentu. 2) Untuk menentukan kedudukan siswa dalam suatu kelas atau suatu kelompok. 3) Untuk memperoleh suatu nilai.
            Sedangkan tes standar adalah tes yang disusun oleh tim ahli. Atau disusun oleh lembaga yang khusus menyelenggarakan secara professional. Tes tersebut diketahui memenuhi syarat sebagai tes yang baik; yakni diketahui validasi dan reliabilitasnya baik validasi rasional mampu validitas empiric, reliabilitas dalam arti teruji tingkat stabilitas maupun homoginitasnya. Tes ini dapat digunakan dalam waktu yang relatif lama, dapat diterapkan kepada beberapa obyek menyangkut wilayah yang luas. Untuk mengukur validasi dan reliabilitasnya telah di uji cobakan beberapa x sehingga hasilnya dapat dipertanggung jawabkan. Menurut Suharsimi Arikunto kegunaan tes standar adalah sebagai berikut; 1) Membandingkan prestasi belajar dengan pembawaan individual atau kelompok. 2) Membandingkan tingkat partisifasi siswa dalam keterampilan diberbagai bidang studi untuk individu atau kelompok. 3) Membandingkan prestasi siswa berbagai sekolah atau kelas. 4) Mempelajari perkembangan siswa dalam suatu priode atau waktu tertentu.
            Untuk memberikan gambaran yang jelas di sajikan perbandingan antara tes buatan guru dengan tes standar, untuk Tes standar; 1) Didasarkan atas bahan dan tujuan umum pendidikan diseluruh Negara. 2) Mencakup aspek yang luas meliputi pengetahuan dan keterampilan dengan hanya sedikit .butir tes utnuk setiap keterampilan atau topic. 3) Disusun dengan kelengkapan staf, professor, pembahas, dan editor butir tes. 4) Menggunakan butir tes yang telah di ujicobakan, dianalisis dan di revisi sebelum disajikan. 5) Mempunyai reliabilitas yang tinggi. 6) Dimungkinkan menggunakan norma untuk seluruh Negara.
            Dan untuk Tes non standar; 1) Didasarkan atas bahan dan tujuan khusus yang dirumuskan guru untuk kelasnya sendiri. 2) Dapat terjadi hanya mencakup pengetahuan dan keterampilan yang sempit dengan butir tes yang lebih banyak atau luas untuk setiap topic atau keterampilan. 3) Disusun sendiri oleh guru dengan sedikit atau dengan tanpa bantuan oaring lain. 4) Jarang menggunakan butir-butir yang sudah diujicobaka, dianalisis dan direvisi. 5) Mempunyai reliabilitas sedang atau rendah. 6) Norma kelompok tebatas kelas tertentu.



PENUTUP
      Wand dan Brown (1957) mendefinisikan evaluasi sebagai “refer to the act or process to determining the value of something” evaluasi mengacu kepada suatu proses untuk menentukan nilai sesuatu yang dievaluasi.
      Menurut Achmad Sanusi evaluasi adalah proses penilaian yang sistematis, yang mencakup pemberian nilai, atribut, apresiasi, dan pengenalan permasalahan serta pemberian solusi-solusi
      Tes adalah sejumlah pertanyaan yang di ajukan oleh evaluator secara lisan atau tertulis yang harus dijawab oleh peserta tes ( testtee ) dalam bentuk lisan atau tulisan pula.
      Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian Teknik Evaluasi Tes adalah suatu proses penilaian yang sistematis yang didalamnya ada sejumlah pertanyaan yang diajukan oleh evaluator (guru) secara lisan atau tulisan yang harus dijawab oleh peserta didik dalam bentuk lisan atau tulisan pula.
      Hendyat Soetopo membagi tes menjadi 6 (enam) jenis pembagain yaitu 1) Pembagian menurut sifatnya, tes dapat dikelompokan menjadi: tes verbal dan tes non verbal. 2) Pembagian menurut tujuannya, tes ini dapat dikelomokan menjadi: tes bakat (Aptitude Test), tes intelegensi (Intelligence Test), tes prestasi belajar (Achievement Test), tes diagnostik (Diagnostic Test), tes sikap (Attitude Test) dan tes minat. 3) Pembagian menurut pembuatannya, tes dapat dikelompokan menjadi: tes terstandar (Standart Direct Test), tes buatan guru (Teacher Made Test). 4) Pembagian menurut bentuk soalnya, tes dikelompokan menjadi: tes uraian (Essay Test) dan tes obyektif  (Objective Test)
      Berdasarkan pada cara mengerjakan soal, maka tes objektif dapat digolongkan menjadi 2 yaitu variasi di mana testee harus mensuplai jawabannya sehingga hampir tidak berbeda dengan essay test. misalnya bentuk completion test (melengkapi) dan the short answer (jawaban singkat). Dan variasi di mana tesstee hanya memilih di antara jawaban yang telah disediakan bersama solnya. Pada variasi ini ada lima bentuk tes. yaitu: salah-benar, memilih jawaban yang paling benar, menjodohkan dengan jawaban yang benar, memilih jawaban yang telah di sediakan untuk setiap soal, mengelompokan jawaban yang sesuai dengan klasifikasi msing-masing.
      Ditinjau dari obyek yang dites, maka tes dikelompokan menjadi: tes individual  dan tes kelompok. Di lihat dari jenis tesnya, tes dibagi ke dalam 4 jenis tes : test penempatan (placement test), test formatif (formative test) tes diagnostic (diagnostic test), dan tes sumatif (summative),
      Adapun bentuk tes dalam evaluasi yaitu: tes Subyektif meliputi tes uraian bebas, tes uraian terikat atau terbatas dan tes uraian berstruktur. Dan  tes Obyektif meliputi bentuk salah-benar, bentuk pilihan ganda, bentuk melengkapi dan bentuk menjodohkan. Pembuatan tes dalam evaluasi tes buatan guru (tes non standar) dan tes Standar. 



Refleksi
            Evaluasi adalah bagian yang hakiki dari usaha mengajar. Mengetes, menulis, memberi angka, membuat laporan adalah alat-alat evaluasi yang harus digunakan untuk mengakibatkan hasil belajar yang lebih baik. Sering evaluasi dianggap terpisah dari belajar, yaitu sekedar memberi gambaran tentang kesanggupan anak. Itu penting akan tetapi yang lebih penting lagi ialah menggunakan evaluasi sebagai suatu alat untuk mengusahakan agar anak-anak belajar dengan lebih baik.
            Murid sendiri yang turut serta secara aktif dalam evaluasi. Dialah orang utama yang menilai pekerjaannya sendiri, sebab dialah yang harus belajar dan mempertinggi hasil belajarnya berdasarkan evaluasi itu.
            Untuk melihat dan mengetahui proses yang terjadi dalam pembelajaran. Menurut Thoifuri merumuskan tujuan evaluasi terhadap siswa sebagai berikut: 1) Selektif, yaitu menseleksi penerimaan siswa, menseleksi kenaikan siswa, menseleksi siswa mendapat penghargaan, menseleksi siswa berhak meninggalkan sekolah atau lulus. 2) Diagnostik, adalah mengetahui kelemahan siswa, kemudian dicarikan solusinya. 3) Penempatan (placement), yakni menempatkan siswa berdasarkan tingkat kecerdasan intelektualnya dalam kelompok kelas tertentu sehingga proses pengajarannya lebih mudah. 4) Pengukuran keberhasilan, adalah mengukur keberhasilan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
            Jadi, agar suatu proses pembelajaran dikatakan efektif, jika pembelajaran tersebut diorganisasikan dengan sedemikian rupa sehingga semua yang berkepentingan dan terutama siswa itu sendiri memperoleh penilaian yang valid dan terperinci dari segala aspek pembelajarannya.


DAFTAR PUSTAKA
Fauzi Anis dan Rifiyal Ahmad Lugowi. 2009. Pembelajaran Micro. Jakarta:Diadit Media
AD. Rooijakkers. 1991. Mengajar dengan Sukses. Jakarta: PT. Gramedia
Syah Darwayan dkk.2009. Pengembangan Evaluasi Sistem Pendidikan Agama Islam. Jakarta:Diadit Media
Syah Darwayan dan Supardi.2014. Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.Ciputat:Haja Mandiri
Mulyadi. 2010. Evaluasi Pendidikan. Malang:UIN Maliki Pers
Arifin Zaenal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung:PT.Remaja Rosda Karya
Makmun Syamsudin, Abin. 2012. Psikologi Kependidikan. Bandung:PT.Remaja Rosda Karya
Sanjaya Wina. 2010. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:Kencana Prenada [7]Media Group
Popham James dan Evi L.Baker. 1992. Teknik mengajar secara sistematis. Jakarta: PT. Rineka Cipta
Hamalik Oemar. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
Syah, darwyan dan M. A. Djazimi. Pengemabangan Sistem Evaluasi Pendidikan Agama Islam. Jakarta: UIN Jakarta Press.
Mursell dan S. Nasution. Mengajar dengan Sukses. Jakarta: Bumi Aksara





[1] Wina sanjaya, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: kencana prenada media group, 2010) hal. 335
[2] Anis fauzi dan rifyal ahmad lugowi, Pembelajaran Mikro, (Jakarta: Diadit Media, 2012) hal.101
[3] Ibid, Anis fauzi dan rifyal ahmad lugowi, hal.108
[4] Darwayan syah dan supardi, Evaluasi Pembelajaran pendidikan Agama Islam, (Ciputat: haja mandiri,2014) hal.99
[5]  Mulyadi. Evaluasi Pendidikan, (Malang: UIN-Maliki Press, 2010) hal.60
[6] Darwayan syah  dan Supardi, Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Ciputat:Haja Mandiri, 2014)hal.120


Selasa, 07 Oktober 2014

MAKALAH KURIKULUM INTI DAN KURIKULUM MUATAN LOKAL


MAKALAH
KURIKULUM INTI DAN KURIKULUM MUATAN LOKAL



BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
            Saat ini negara Indonesia telah masuk ke dalam era globalisasi, tentu segala sesuatu telah mengalami perubahan dan kemajuan yang lebih baik. Yang harus didukung juga oleh pendidikan, sehingga pendidikan tersebut membuat masyarakat bisa hidup dalam era globalisasi yang memerlukan kemampuan dari individu-individu itu.
            Pendidikaan merupakan hal yang paling penting pada suatu bangsa, karena dapat menentukan nasib dari bangsa itu sendiri pada masa mendatang. Oleh karena itu pendidikan tidak lepas dari kurikulum yang mencetak siswa-siswanya.
            Kurikulum merupakan pedoman mendasar dalam proses belajar mengajar di dunia pendidikan dan juga sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan Berhasil tidaknya suatu pendidikan, tentu akan sangat tergantung pada kurikulum.
            Kurikulum yang disusun dipusat terdiri dari beberapa mata pelajaran pokok dengan harapan agar peserta didik diseluruh Indonesia mempunyai standar kecakapan yang sama. Kurikulum tersebut dinamai kurikulum nasional atau kurikulum inti dan kurikulum  yang disusun di daerah – daerah disebut kurikulum muatan local.
1.2  Rumusan Masalah
a.       Apa pengertian kurikulum inti  ?
b.      Apa dasar pelaksanaan kurikulum inti ?
c.       Apa komponen-komponen dalam kurikulum inti ?
d.      Apa pengertian kurikulum muatan lokal ?
e.       Apa ruang lingkup kurikulum muatan lokal ?
f.       Apa fungsi kurikulum muatan lokal ?
g.      Apa tujuan dari kurikulum muatan lokal ?
h.      Apa dasar pengembangan kurikulum muatan lokal ?

BAB II
PEMBAHASAN
2.22
2.2hjudgfjd 
 2.1 KURIKULUM  INTI
2.1.1  Pengertian Kurikulum Inti (core curriculum)
       Menurut caswell, seperti dikutip dalam nasution (1993: 115), define kurikulum inti adalah sebagai berikut : "a continous, careful planned series of experience which are based on significant personal and social problems and which involve learning of common concern to all youth"
Berdasarkan definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri kurikulum inti adalah :
          kurikulum inti merupakan rangkaian pengalaman yang saling berkaitan;
          direncanakan secara terus menerus sebelum dan selama dijalankan;
          berdasarkan pada masalah-masalah yang dihadapi;
          berdasarkan pribadi dan social;
          diperuntukan bagi semua siswa, karenanya termasuk pendidikan umum.
 Kurikulum inti disebut juga sebagai kurikulum nasional, karena kurikulum inti disusun dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional yaitu menciptakan para lulusan menjadi manusia indonesia seutuhnya (uuspn no. 2 tahun 1989, pasal 4) yang tentunya selalu memperhatikan pada kebutuhan siswa dan kesesuaiannya dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sesuai dengan jenjang pendidikan yang ditempuh.

2.1.2 Dasar Pelaksanaan Kurikulum Inti/Nasional
       didalam pelaksanaan kurikulum terdapat banyak factor yang harus dipertimbangkan untuk mencapai tujuan dari kurikulum tersebut adapun didalam penyusunanya kurikulum mempunyai landasan yang terdiri dari landasan ideal , landasan hukum dan landasan teori . Landasan ideal berupa UUD 1945, pancasila dan tap MPR tentang GBHN dalam rangka mewujudkan tujuan pembangunan nasional dan tujuan pendidikan nasional.

Ladasan hukum berupa peraturan pemerintah republik indonesia Nomor 29 tahun 1990, tentang pendidikan menengah, keputusan mendikbud Nomor 060/UU/1993 tentang kurikulum sebagaimana tercantum dalam landasan program pengembangan kurikulum. Landasan teori berupa buku landasan program dan pengembangan kurikulum yang memuat tentang pedoman dalam pengembangan kurikulum dan buku pelaksanaan kurikulum terdiri atas pedoman kegiatan belajar mengajar untuk setiap mata pelajaran.



2.1.3  Komponen -komponen dalam Kurikulum Inti
       Kurikulum inti atau nasional didalam penyusunannya juga harus sesuai dengan tingkatan pendidikan masing – masing. seperti kurikulum nasional pada pendidikan dasar terdiri dari
1.       pendidikan pancasila
2.       pendidikan agama
3.       pendidikan kewarganegaraan
4.       bahasa indonesia
5.       membaca dan menulis
6.       matematika
7.       kerajinan tangan dan kesenian
8.       menggambar
9.       pendidikan jasmani
 Komponen – komponen sebagai dasar dalam penyusunan kurikulum inti terdiri dari tujuan, isi, metode (tehnik menyampaikan dalam proses belajar mengajar), evaluasi program. menurut tyler, kurikulum menyangkut hal-hal berikut
1.       Tujuan yang akan dicapai
2.       Isi materi apa yang harus diprogramkan untuk mencapai tujuan tersebut
3.       Bagaimana isi kurikulum itu diorganisasikan
4.       Bagaimana mengetahui bahwa tujuan yang akan dicapai dimiliki peserta didik

 
 
2.2 KURIKULUM MUATAN LOKAL

2.2.1 Pengertian Kurikulum Muatan Lokal

         Kurikulum muatan lokal diartikan sebagai program pendidikan  yang isi (bahan pembelajaran yang digunakan untuk mencapai tujuan muatan lokal)  dan media penyampaiannya (metode dan sarana yang digunakan dalam penyampaian isi muatan lokal) dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya serta kebutuhan pembangunan daerah yang perlu diajarkan kepada siswa.

Kegiatan belajar mengajar yang bermuatan lokal harus mencakup baik isi maupun media penyampaiannya. Misal; pada suatu daerah tertentu dianggap perlu melestarikan pakaian tradisionalnya, sedangkan dalam kurikulum sekolah terdapat pokok bahasan kebutuhan pakaian, selain fungsi dan jenis pakaian secara nasional, guru juga membahas tentang pakaian adat, cara memakainya, dan kapan, serta dimana pakaian adat tersebut pantas dipakai, baik masa kini maupun masa lalu. Disamping itu juga guru mengajak siswa untuk menunjukan apa perbedaan adat masa lampau dengan masa sekarang dan persamaan dalam nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Cara penyajian sederhana dapat menggunakan gambar-gambar yang melukiskan penggunaan pakaian adat masa lampau dan masa sekarang. Dengan cara demikian maka isi dan media penyampaian dapat menunjang tercapainya tujuan muatan lokal yaitu antara lain; siswa dapat meningkatkan pengetahuan mengenai lingkungannya serta terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.

Lingkungan alam adalah lingkungan hidup dan tidak hidup yang mencakup komponen hewan dan tanaman beserta tempatnya, dan hubungan timbal balik antara komponen tersebut. Jadi, dalam lingkungan alam terdapat ekosistem antara lain; kolam, sungai, hutan, sawah, keindahan alam, dan sebagainya.
Lingkungan sosial adalah Lingkungan yang mencakup hubungan timbal balik (interaksi) antara manusia satu dengan yang lainnya sesuai dengan peraturan-peraturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Misal; interaksi antara manusia yang terdapat dalam lingkungan sekolah, lingkungan kelurahan/desa, rukun tetangga, dan lembaga-lembaga formal, seperti koprasi unit desa, puskesmas, dan lembaga-lembaga informas lainnya seperti; majelis Ta’lim, majelis Da’wah Islamiah dan sebagainya.
Lingkungan budaya adalah lingkungan yang mencakup segenap unsur budaya yang dimiliki masyarakat di suatu daerah tertentu. Termasuk di dalamnya antara lain adalah kepercayaan, kebiasaan-kebiasaan, adat istiadat, aturan-aturan yang umumnya tidak tertulis (misalnya; tatakrama, cara pergaulan, etika dengan orang tua, dengan tetangga), nilai-nilai serta penampilan perlambang-perlambang yang menyatakan perasaan, yang antara lain terdapat dan kesenian daerah.
 

        Perpaduan antara lingkungan alam, sosial dan budaya hakikatnya membentuk suatu kehidupan yang memiliki ciri-ciri tertentu yang disebut  dengan pola kehidupan. Jadi pola kehidupan masyarakat mencakup interaksi antara anggota masyarakat tersebut yang meliputi interaksi antara individu, individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok lainnya baik secara formal dan informal. Dalam kenyataannya pola kehidupan suatu masyarakat dapat berbeda dengan kelompok masyarakat lainnya. Hal ini disebabkan oleh kondisi lingkungan alamnya dan sejarah perkembangan kebudayaannya. Kebudayaan masyarakat mencakup antara lain; gagasan, keyakinan, pengetahuan, aturan dan nilai, dan simbol-simbol yang di gunakan untuk menanggapi lingkungannya. Dengan demikian, pengembangan bahan pelajaran muatan lokal yang mengacu pada pola kehidupan masyarakat secara langsung maupun tidak langsung dalam mengembangkan wawasan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya. 

2.2.2  Ruang Lingkup Kuikulum Muatan Lokal

Ruang lingkup kurikulum muatan lokal adalah sebagai berikut:

·         Lingkup isi muatan lokal didasarkan pada keadaan daerah, kebutuhan lingkungan dan kebutuhan siswa yang akan belajar.

·         Lingkup sekolah.
·         Lingkup wilayah.
2.2.3  Fungsi Kurikulum Muatan Lokal
Secara umum fungsi kurikulum muatan lokal adalah:
·         Mengelola lingkungan alam secara bertanggung jawab, melestarikan nilai-nilai dan mengembangkan kebudayaan daerah serta meningkatkan mutu pendidikan dan jati diri masyarakat Indonesia dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
·         Menumbuhkan dan mengembangkan sikap senang bekerja, bergaul, memelihara, dan meningkatkan cita rasa keindahan, kebersihan, kesehatan, serta ketertiban, dalam upaya meningkatkan mutu kehidupan sebagai pribadi, anggota masyarakat dan warga Negara Indonesia yang bertanggung jawab.

2.2.4  Tujuan Muatan Lokal

            Secara umum program muatan lokal adalah mempersiapkan murid agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang lingkungannya serta sikap dan prilaku bersedia melestarikan dan mrngembangkan sumber daya alam, kualitas sosial, dan kebudayaan yang mendukung pembangunan setempat.

           


            Perumusan tujuan penerapan muatan lokal yang tercantum dalam lampiran surat keputusan mendikbud No. 0412/U/1987 tersebut di atas itu bersifat umum. Dalam UU SISDIKNAS No. 20 Tahun 2003 pasal 36 ayat 3 dicantumkan bahwa, kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka negara Kesatuan RI dengan memperhatikan antara lain keragaman potensi daerah dan lingkungan. Lalu pada pasal 37 ayat 1 ditegaskan bahwa, kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat antara lain muatan lokal. Karna itu dapat digunakan sebagai pedoman untuk mengengembangkan gagasan muatan lokal. Tujuan tersebut pada dasarnya dapat di bagi dalam dua kelompok tujuan, yaitu; tujuan langsung (yang dapat segera dicapai) dan tujuan tidak langsung (yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya).


a.       Tujuan Langsung
·        Bahan pengajaraan lebih mudah diserap oleh murid.
·  Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan  pendidikan.
·     Murid dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya.
·    Murid dapat lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial dan lingkunagan budaya yang terdapat didaerahnya.
b.      Tujuan Tidak Langsung
·        Murid dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya.
·       Murid diharapkan dapat menolong orang tuanya dan menolong dirinya sendiri    dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
·   Murid menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan lingkungannya sendiri.
Dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar, maka besar kemungkinan murid dapat mengamati, melakukan percobaan atau kegiatan belajar sendiri. Belajar mencari, mengelola, menemukan informasi sendiri dan menggunakan informasi itu untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungannya merupakan pola dasar dari belajar, belajar tentang lingkungan dalam lingkungannya sendiri mempunyai daya tarik tersendiri bagi seorang anak.
2.2.5  Dasar Pengembangan Kurikulum Muatan Lokal
            Muatan lokal merupakan gagasan-gagasan seseorang tentang kurikulum yang antara lain memuat pandangannya terhadap suatu pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dan bagaimana cara mencapainya. Suatu gagasan pada dasarnya hars memiliki landasan-landasan tertentu agar dapat dibina dan dikembangakan sesuai dengan harapan dari pencetusannya.

Muatan lokal memiliki 4 macam landasan, yaitu :
a.       Landasan Ideal
Mengingat muatan lokal merupakan bagian dari kurikulum, maka muatan lokal juga harus dikembangkan berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan ketetapan MPR Nomor II/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) dalam rangka mewujudkan cita-cita pembangunan nasional pad khususnya. Di samping itu muatan lokal juga perlu dikembangkan berdasarkan UU.RI.No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional dan peraturan pemerintah Indonesia sebagai akibatnya.

b.      Landasan Hukum
Landasan hukum tentang muatan lokal adalahsebagai berikut :
·         Keputusan Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, No.0412/U/1987 tentang penerapan Muatan Lokal  KutikulumSekolah Dasar.
·         Keputusan direktur jendral pendidikan Dasar dan Menengah No. 173/C/Kep/M/1987 tanggal 7 Oktober 1987 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penerapan Muatan Lokal kurikulum Sekolah Dasar.
·         Undang-Undang Nomor 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional tahun 1989 pasal 1, pasal 37, pasal 38 ayat 1 dan pasal 39 ayat 1.
·         Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar pasal 14 ayat 3 dan 4 dan pasal 37.
·         Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 36 ayat 2 dan 3 dan pasal 37 ayat 1.
c.       Landasan Teoritik
Landasan teoritik muatan lokal untuk  Sekolah Dasar sebagai berikut;
·         Tingkat kemampuan berfikir murid sekolah dasar mengharuskan kita menyajikan bahan kajian yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir tingkat kongkrit sampai tingkat abstrak. Pengembangan kemampuan berpikir ini ditunjang antara lainteori belajar dari Ausubel (1969) dan konsep asimilasi dari Jean Peaget (1972) yang pada intinyamenyatakan bahwa sesuatu yang baru haruslah dipelajari berdasarkan apa yang telah dimiliki siswa. Penerimaan gagasan baru dengan bantuan pengetahuan yang telah ada ini sebenarnya telah dikemukakan oleh Fiedrich Herbart (1776-1841) yang dikenal dengan istilah apersepsi.
·         Pada dasarnya anak-anak usia sekolah dasar memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar tentang segala sesuatu yang terjadi dilingkungan sekitarnya. Karena itu mereka selalu akan gembira bila dilibatkan secara mental, fisik dan sosialnya dalam mempelajari sesuatu. Mereka akan senang bila diberi kesempatan untuk menjelajahi lingkungan sekitarnya yang penuh dengan sumber belajar.




d.      Landasan Demografik

      Keindahan bangsa dan negara Indonesia terletak pada keanekaragaman pada pola kehidupan dari beratus-ratus suku bangsa yang tersebar di beribu pulau dari Sabang sampai Merauke. Kekaguman terhadap bangsa Indonesia telah di nyatakan oleh hampir seluruh bangsa di dunia, karena keanekaragaman tersebut oleh falsafah hidup bangsa yaitu Pancasila. Keanekaragaman tersebut bukan saja ada pada bidang budayanya saja, melainkannya juga pada keanekaan alam, fauna dan floranya serta kehidupan sosialnya. Semuanya itu merupakan dasar yang sangat penting dalam mengembangkan muatan lokal.
      Selain landasan pemikiran tersebut pengembangan muatan lokal juga didorong oleh kenyataan yang menunjukan bahwa banyak siswa Sekolah Dasar terpaksa harus meninggalkan bangku sekolah yang antara lain disebabkan oleh :
·         Keadaan sosial ekonomi orang tua murid.
·         Kurang sesuainya kurikulum Sekolah Dasar dengan kebutuhan murid.
·         Salah satu faktor penyebab urbanisasi adalah karena pendidikan belum dapat memberikan kemampuan kepada murid untuk mengenal dan memanfaatkan keadaan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya yang ada di sekitarnya untuk mengembangkan pribadi dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya didaerah tempat asalnya.
·         Mengingat berbagai sebab tersebut diatas, maka tujuan-tujuan yang telah ditetapkan diharapkan dapat dicapai melalui gagasan dan penerapan muatan lokal di Sekolah Dasar.