Selasa, 07 Oktober 2014

makalah tentang MAHABBAH



MAKALAH
MAHABBAH
Makalah ini di susun dan di persentasikan pada mata kuliah
 Akhlak Tasawuf
PGMI – B / 1








Penyusun

Nama                                                Nim

Siti Masitoh                                     122700525
Meli                                                 122700526
Nia                                                   122700531


FAKULTAS TARBIYAH DAN ADAB
IAIN “SULTAN MAULANA HASANUDDIN”
BANTEN
2012


KATA PENGANTAR



Alhamdulillahirobbil’alamin, kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya makalah Akhlak Tasawuf  ini dapat kami selesaikan. Tidak lupa pula sholawat dan salam semoga tercurah limpahkan kepada nabi Muhammad SWT, kepada keluarganya, sahabatnya serta umatnya hingga akhir jaman.
Dalam makalah ini menjelaskan tentang Mahabbah yang merupakan salah satu materi dalam mata kuliah Akhlak Tasawuf. Semua materi yang kami sajikan dalam makalah ini merupakan diambil dari beberapa sumber yang Insya Allah dapat dipertanggungjawabkan. Namun kami berharap semoga adanya makalah ini dapat membantu bagi para mahasiswa, dosen, dan para pembaca pada umumnya serta khususnya bagi kami pembuatnya.
Kami selaku pembuat makalah mohon maaf apabila dalam penyampaian materi dan penulisan masih banyak kekurangan. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Hal ini dapat dikarenakan keterbatasan kami sebagai penulis. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan untuk makalah kami selanjutnya.
                                                                                                            

Serang ,  2012


Penulis



DAFTAR ISI
                                                                                  
KATA PENGANTAR ...........................................................................................             i
DAFTAR ISI ...........................................................................................................             ii

BAB I    PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah..................................................................................                  1
1.2 Rumususan Masalah........................................................................................                  1
1.3 Tujuan .............................................................................................................                  1

BAB II PEMBAHASAN

2.1   Pengertian Mahabbah .......................................................................................               2
2.2   Alat untuk mencapai mahabbah.........................................................................               4
2.3   Tokoh sufi mahabbah dan ajarannya.................................................................               5
2.4   Mahabbah dalam al-qur’an dan al-hadits ..........................................................               8
2.5   Jenis-jenis mahabbah (cinta)..............................................................................              9

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan .........................................................................................................              10

DAFTAR PUSTAK


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Perasaan cinta tidak akan pernah lepas dari kehidupan kita. Entah itu rasa cinta terhadap benda dan rasa cinta kepada sang pencipta
Dalam kesempatan kali ini kami ingin sedikit  menguraikan pengetahuan kami tentang mahabbah yaitu katayang digunakan untuk menunjukan pada sesuatu faham atau aliran dalam tasawuf,  yang obyeknya lebih ditunjukan pada tuhan. Mahabbah memiliki empat jenis yaitu cinta kepada allah,  cinta karena allah, cinta bersama allah dan cinta naluri. Cinta naluri terbagi menjadi tiga yaitu cinta penghormatan dan penghargaan, cinta kasih sayang dan rahmat  seperti kecintaan kepada anak dan cinta yang dimiliki oleh semua orang.

1.2    Rumusan Masalah

a.       Apa pengertian mahabbah ?
b.      Siapakah tokoh sufi mahabbah dan ajarannya ?
c.       Sebutkan mahabbah dalam al-qur’an dan al-hadits ?
d.      Sebutkan  jenis-jenis mahabbah ?

1.3    Tujuan

Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mempelajari mahabbah lebih dalam lagi tentang  pengertian mahabbah, alat untuk mencapai mahabbah, tokoh sufi mahabbah dan ajarannya, mahabbah dalam al-qur’an dan al-hadits serta jenis-jenis mahabbah (cinta).




BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Mahabbah

          Mahabbah adalah Cinta. Hal ini mengandung maksud cinta kepada tuhan. Lebih luas lagi, bahwa “MAHABBAH” memuat pengertian yaitu :
a.       Memeluk dan mematuhi perintah tuhan dan membenci sikap yang melawan pada tuhan.
b.      Berserah diri kepada tuhan.
c.       Mengosongkan perasaan di hati dari segala-galanya kecuali dari zat yang dikasihi.













Artinya :
“katakanlah: “ jika kamu (benar-benar) mencintai allah, ikutilah aku, niscaya allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu”.  Allah maha pengampun lagi maha penyayang”. (QS. Ali-imran:31)



2
Kata mahabbah tersebut selanjutnya digunakan untuk menunjukan pada suatu paham atau aliran dalam tasawuf. Dalam hubungan ini mahabbah obyeknya lebih ditunjukan pada tuhan. Dari sekian banyak arti mahabbah yang dikemukakan diatas, tampaknya ada juga yang cocok dengan arti mahabbah yang dikehandaki dalam tasawuf, yaitu mahabbah yang artinya kecintaan yang mendalam secara ruhani pada tuhan.

Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan al-qusyairi sebagai berikut:















Al-mahabbah adalah merupakan hal (keadaan) jiwa yang mulai yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan) allah swt, oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakaan cintanya kepada yang dikasihi-nya dan yang seorang hamba mencintai allah swt.
Dalam ajaran tasawuf mahabbah dikaitkan dengan ajaran yang disampaikan oleh seorang wanita sufi yang bernama Rabiah al-adawiah. Mahabbah adalah paham tasawuf yang menekankan perasaan cinta kepada tuhan. Tuhan bukanlah suatu zat yang harus diketahui, tapi sebaliknya sebagi zat yang harus dicintai dan didekati. Untuk dapat mencintai dan dekat dengan tuhan, maka sekarang harus banyak melakukan peribadatan dan meninggalkan kesenangan duniwi.
                                                                        3
Aliran-aliran tasawuf mahabbah kedudukannya sejajar dengan aliran-aliran tawuf lainnya seperti ma’rifat (pengetahuan), al-fana dan al-baqa (kehancuran dan ketetapan), dan al-ittihad (persatuan). Ittihad dapat berbentuk al-qulul (pengambilan tempat) ataupun al-wujud (kesatuan wujud).
Paham-paham tersebut sering disebut stasiustsiun (maqamah) yang berada di atas tingkatan tobat, zuhud, sabar dan tawakal.

Sebab-sebab yang mengutamakan rasa cinta Allah SWT yaitu :
*      Memutuskan interaksi duniawi dan mengeluarkan cinta kepada selain Allah SWT. Dari hati. Karena hati dapat diibaratkan seperti sebuah bejana yang tidak akan muat untuk menampung sebuah cuka, umpamaannya, jika tidak dikeluarkan semua air darinya.
*      Kuatnya rasa cinta adalah kuatnya pengenalan Allah SWT. Keluasannya dan dominasinya terhadap hati. Hal itu dapat terjadi setelah mensucikan hati dari segala kesibukan duniawi dan berbagai interaksinya, berjalan seperti peristiwa peletakan sebuah benih di  bumi setelah membersihkannya dari rerumputan, dimana dia merupakan bagian kedua. Kemudian dari sebuah benih itu tumbuhlah sebuah pohon cinta dan ma’rifat, yaitu kalimah yang baik yang dicontohkan oleh Allah SWT.

2.2       ALAT UNTUK MENCAPAI MAHABBAH

Para ahli tasawuf menjawabnya dengan menggunakan psikologi, yaitu pendekatan yang melihat adanya potensi rohaniah yang ada dalam diri manusia. Harun nasution, dalm bukunya falsafah dan mistisis dalam islam mengatakan, bahwa alat unutuk memperoleh ma’rifat oleh sufi disebut sir (           ). Dengan mengutip pendapat al-qusyairi, harun nasution mengatakan, bahwa dalam diri manusia ada tiga alat yang dapat digunakan untuk berhubungan dengan tuhan. Pertama, al-qalb (              ) hati sanubari, sebagi alat untuk mengetahui sifat-sifat tuhan. Kedua, roh (             ) sebagai alat untuk mencintai tuhan. Ketiga, sir (          ), yaitu alat untuk melihat tuhan. Sir lebih halus daripada roh. Kelihatannya sir bertempat di roh, dan roh  timbul bertempat di qalb, dan sir timbul dan dapat menerima iluminasi dari Allah, kalau qalb dan roh telah suci sesuci-sucinya dan sekosong-kosongnya, tidak berisi apapun.

4
Dengan keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa alat untuk mencintai tuhan adalah roh, yaitu roh yang yang sudah dibersihkan dari dosa dan maksiat, serta dikosongkan dari kecintaan kepada segala sesuatu, melainkan hanya diisi oleh cinta kepada tuhan.

Roh  yang digunakan untuk mencintai tuhan itu telah dianugrahkan tuhan kepada manusia sejak kehidupannya dalam kandungan ketika umur empat bulan. Dengan demikian alat untuk mahabbah itu sebenarnya telah diberikan tuhan. Yang mengetahui hanyalah tuhan.

2.3       TOKOH SUFI MAHABBAH DAN AJARANNYA

Aliran mahabbah di pelopori dan di kembangkan oleh seorang sufi wanita yang bernama Rabi’ah Al-‘Adawiah. Rabi’ah al-adawiyah adalah seorang zahid perempuan yang amat besar dari bashrah, di irak. Ia lahir di basrah pada tahun 714 M. Kelahirannya di liputi bermacam cerita aneh-aneh. Pada malam ketika ia lahir, di rumahnya tidak ada apa-apa, bahkan minyak untuk menyalakan lampupun tidak ada, juga tidak di temui sepotong gombal pun untuk membungkus bayi yang baru di lahirkan itu. Ibunya meminta ayah rabiah supaya pinjam saja minyak  dari tetangga. Ini merupakan suatu cobaan bagi si ayah yang malang.  Ayah ini telah berjanji kepada allah untuk tidak mengulurkan tangannya meminta tolong kepada sesamanya. Namun begitu, ia pergi juga kepada tetangganya, mengetuk pintu, tetapi tidak mendapat  jawaban. Ia merasa lega dan mengucap syukur kepada tuhan, karena tidak perlu ingkar  janji lalu Ia pulang dan tidur. Malam itu ia bermimpi, nabi muhammad memberikan tanda kepadanya dengan mengatakan bahwa anaknya yang baru lahir itu telah ditakdirkan menduduki tempat spiritual yang tinggi.
Robiah kehilangan kedua orang tuanya waktu ia masih kecil. Ketiga orang kakaknya perempuan juga mati ketika wabah kelaparan melanda basra. Ia sendiri jatuh ke tangan yang kejam, dan orang ini menjualnya sebagai budak belia dengan harga yang tidak seberapa. Majikannya yang baru juga tidak kurang bengisnya.
Si kecil Rabiah menghabiskan waktunya dengan melaksanakan segala perintah  majikannya. Malam hari di laluinya dengan berdoa. Pada suatu malam, majikannya melihat tanda kebesaran rohani Rabiah, ketika Rabiah berdoa kepada allah “ya rabbi, engkau telah membuatku menjadi budak belian seorang manusia sehingga aku terpaksa mengabdi kepadanya. Seandainya aku bebas, pasti aku persembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini
5
untuk berdoa kepadamu Tiba-tiba tampak cahaya di dekat kepalanya, dan melihat itu majikannya menjadi sangat ketakutan. Esok harinya Rabiah dibebeskan.
Setelah bebas, Rabiah pergi ketempat-tempat yang sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat basrah. Di sini ia hidup seperti bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendil dari tanah, sebuah batu bata dan semua itulah yang merupakn keseluruhan harta yang ia punyai. Ia sepenuhnya mengabdikan diri untuk berdoa, dan tidur sekejap saja sebelum dini hari meskipun hal ini sangat ia sayangkan.
Ia menerima sebuah pinangan untuk sebuah perkawinan yang baik. Diantaranya datang dari gubernur basra, juga dari seorang cuci-mistis yang terkenal hasan basri. Tetapi rabi’ah terlalu sibuk mengabdikan dirinya kepada Allah, hingga sisa waktunya sedikit  sekali untuk urusan duniawi. Karena itulah semua pinangan ditolaknya.
Rabi’ah punya banyak murid yang keras, termasuk malik bin dinar, raba al-rais, syakh al balkhi, dan hasan basra. Mereka sering mengunjungi rabi’ah untuk mendapatkan nasihat atau do’a, atau untuk mendengarkan ajarannya. Pada suatu hari, subyan suri, seorang yang saleh dan dihormati datang pada rabi’ah, mengangkat kedua belah tangannya dan berdo’a: “tuhan yang maha kuasa, saya memohon harta duniawi dari-Mu”. Menagis, ia menjawab, “harta yang sesungguhnya itu hanya didapat setelah menanggalkan segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat anda hanya mencarinya didunia ini saja”.
 Terbetik cerita, ada orang yang mengirim uang empat puluh dinar kepada rabi’ah. Ia menagis dan mengangkat tangannya keatas, “Engkau tahu, Ya Allah, aku tak pernah meminta harta dunia dari-Mu, merskipun kau-lah pencipta dunia ini. Lantas, bagaimana aku dapat menerima yang dari seseorang, sedangkan uang itu sesungguhnya bukan kepunyaannya?”
Ia melarang murid-muridnya untuk menunjukan perbuatan baik mereka kepada siapapun. Mereka malahan diharuskan menutupi perbuatan baik itu, seperti menutup-nutupi perbuatan jahat mereka.
Cinta rabi’ah yang tulus tanpa mengharapkan sesuatu pada tuhan, terlihat dari ungkapan do’a-do’a yang disampikannya. Ia misalnya berdo’a “ Ya Tuhanku, bila aku menyembah-Mu lantaran takut kepada neraka, maka bakarlah diriku dalam neraka; dan bila aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga, maka jauhkanlah aku dari surga; namun jika aku menyembah-Mu hanya demi engkau, maka janganlah engkau tutup keindahan abadi-Mu.


6
Kecintaan rabi’ah pada tuhan terlihat dari syairnya berikut ini:

Aku mencintaimu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku adalah keadaanku senantiasa mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu mengungkapkan tabir hingga engkau kulihat
Baik untuk ini maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mulah pujian untuk kesemuanya.

Dalam syairnya yang lain ia mengatakan’
           
Kucintai engkau lantaran aku cinta,   
Dan lantaran kamu patut dicintai,
Cintakulah yang membuat rindu kepada-Mu
Demi cinta suci ini, sibakkanlah tabir penutup tatapan sembahku
Janganlah kau puji aku lantaran itu
Bagi-Mulah segala puji dan puji.

Atas syair-syair tersebut, al-ghazali mengatakn: “Barangkali yang ia maksud dengan cinta kerinduan itu ialah cinta kepada Tuhan, karena kasih sayang, rahmat dan iradah Allah telah sampai kepadanya”. Karena Allah telah menganugrahkan roh, sehingga ia dapat menyebut dan dekat dengan-Nya.

Syair-syair tersebut ia ucapkan pada saat telah datang keheningan malam dengan gemerlapnya bintang, tertutupnya pintu-pintu istana raja dan orang-orang telah terbuai dalam tidurnya. Waktu malam sengaja dipilih karena pada waktu itulah roh dan daya rasa yang ada dalam diri manusia tambah meningkat dan tajam, tak ubahnya seorang yang bercinta yang selalu mengharapkan waktu-waktu malam untuk selalu bersamaan.





7
2.4      MAHABBAH DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITS

Paham mahabbah sebagaimana disebutkan di atas mendapatkan tempat di dalam al-qur’an . banyak ayat-ayat dalam al-qur’an yang menggambarkan bahwa antara manusia dengan tuhan dapat saling bercinta. Misalnya ayat yang berikut ini:






Jika kamu cinta kepada Allah, maka turutlah aku dan allah akan mencintai kamu.(QS. Ali ‘Imran, 3:30)

Di dalam hadis juga dinyatakan sebagai berikut:







Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga aku cinta kepadanya. Orang yang kucintai menjadi telinga, mata dan tanggan-Ku.

Ayat dan hadis tersebut di atas memberikan petunjuk bahwa antara manusia dan tuhan dapat saling mencintai, karena alat untuk mencintai tuhan, yaitu roh adalah berasal dari roh tuhan. Roh tuhan dan roh yang ada pada manusia sebagai anugrah tuhan bersatu dan terjadilah mahabbah. Ayat dan hadis tersebut juga menjelaskan bahwa pada saat terjadi mahabbah diri yang dicintai telah menyatu dengan yang mencintai yang digambarkan dalam teling, mata dan tangan tuhan. Dan untuk mencapai keadaan tersebut di lakukan dengan amal ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.


2.5  Jenis-jenis mahabbah (cinta)

Cinta ada empat jenis, yaitu :
1.      Cinta kepada Allah, yaitu cinta yang merupakan dasar iman dan tauhid.
2.      Cinta karena Allah, yaitu mencintai nabi-nabi, rasul-rasul dan hamba-hamba-Nya yang sholeh serta mencintai apa yang dicintai Allah berupa amalan, waktu, tempat dan sebagainya, cinta ini mengikuti dan menyempurnakan kecintaan kepada Allah.
3.      Cinta bersama Allah, yaitu kecintaan orang-orang musyrik terhadap tuhan-tuhan dan sembahan-sembahan mereka seperti pohon, batu, manusia dan lain-lain yang merupakan asal dan dasar syirik.
4.      Cinta naluri, terbagi atas tiga macam:
§  Cinta penghormatan dan penghargaan, seperti kecintaan kepada orang tua.
§  Cinta kasih sayang dan rahmat, seperti kecintaan kepada anak.
§  Cinta yang memiliki oleh semua orang.




















BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan

Mahabbah adalah Cinta. Hal ini mengandung maksud cinta kepada tuhan. Lebih luas lagi, bahwa “MAHABBAH” memuat pengertian yaitu :
a.       Memeluk dan mematuhi perintah tuhan dan membenci sikap yang melawan pada tuhan.
b.      Berserah diri kepada tuhan.
c.       Mengosongkan perasaan di hati dari segala-galanya kecuali dari zat yang dikasihi.
v  Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan al-qusyairi
Al-mahabbah adalah merupakan hal (keadaan) jiwa yang mulai yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan) allah swt, oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakaan cinya kepada yang dikasihi-nya dan yang seorang hamba mencintai allah swt.

v  Sebab-sebab yang mengutamakan rasa cinta Allah SWT yaitu :
v  Memutuskan interaksi duniawi dan mengeluarkan cinta kepada selain Allah SWT. Dari hati. Karena hati dapat diibaratkan seperti sebuah bejana yang tidak akan muat untuk menampung sebuah cuka, umpamaannya, jika tidak dikeluarkan semua air darinya.
v  Kuatnya rasa cinta adalah kuatnya pengenalan Allah SWT. Keluasannya dan dominasinya terhadap hati. Hal itu dapat terjadi setelah mensucikan hati dari segala kesibukan duniawi dan berbagai interaksinya, berjalan seperti peristiwa peletakan sebuah benih di  bumi setelah membersihkannya dari rerumputan, dimana dia merrupakan bagian kedua. Kemudian dari sebuah benih itu tumbuhlah sebuah pohon cinta da ma’rifat, yaitu kalimah yang baik yang dicontohkanoleh Allah SWT




v  TOKOH SUFI MAHABBAH


Tokoh sufi mahabbah adalah seorang wanita yang bernama Rabi’ah Al-adawiyah
v  MAHABBAH DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADIS
·         Al-qur’an
Jika kamu cinta kepada Allah, maka turutlah aku dan allah akan mencintai kamu.(QS. Ali ‘Imran, 3:30)
·         Hadis
Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga aku cinta kepadanya. Orang yang kucintai menjadi telinga, mata dan tanggan-Ku.

v   Jenis-jenis mahabbah (cinta)
 Cinta ada empat jenis, yaitu :
·      Cinta kepada Allah
·      Cinta karena Allah
·      Cinta bersama Allah
·      Cinta naluri, terbagi atas tiga macam:
§  Cinta penghormatan dan penghargaan, seperti kecintaan kepada orang tua.
§  Cinta kasih sayang dan rahmat, seperti kecintaan kepada anak.
§  Cinta yang memiliki oleh semua orang.


.









DAFTAR PUSTAKA
                                                                       
Mustofa. Akhlak tasawuf. 2010. CV Pustaka setia. Bandung.

Nata, abuddin. Akhlak tasawuf. 2009. PT Rajagrafindo Persada. Jakarta.                                                                



























5 komentar: