MAKALAH
MAHABBAH
Makalah ini di susun dan di persentasikan pada mata
kuliah
Akhlak Tasawuf
PGMI – B / 1

Penyusun
Nama Nim
Siti Masitoh 122700525
Meli 122700526
Nia 122700531
FAKULTAS TARBIYAH DAN ADAB
IAIN “SULTAN MAULANA HASANUDDIN”
BANTEN
2012
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin,
kami panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya makalah Akhlak Tasawuf ini
dapat kami selesaikan. Tidak lupa pula sholawat dan salam semoga tercurah
limpahkan kepada nabi Muhammad SWT, kepada keluarganya, sahabatnya serta
umatnya hingga akhir jaman.
Dalam makalah ini menjelaskan
tentang Mahabbah yang merupakan salah satu materi dalam mata kuliah Akhlak
Tasawuf. Semua materi yang kami sajikan dalam makalah ini merupakan diambil
dari beberapa sumber yang Insya Allah dapat dipertanggungjawabkan. Namun kami
berharap semoga adanya makalah ini dapat membantu bagi para mahasiswa, dosen,
dan para pembaca pada umumnya serta khususnya bagi kami pembuatnya.
Kami selaku pembuat makalah
mohon maaf apabila dalam penyampaian materi dan penulisan masih banyak
kekurangan. Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan. Hal ini
dapat dikarenakan keterbatasan kami sebagai penulis. Oleh karena itu kami
mengharapkan kritik dan saran demi perbaikan untuk makalah kami selanjutnya.
Serang , 2012
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA PENGANTAR
........................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................. 1
1.2 Rumususan Masalah........................................................................................ 1
1.3 Tujuan ............................................................................................................. 1
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Mahabbah ....................................................................................... 2
2.2 Alat untuk mencapai mahabbah.........................................................................
4
2.3 Tokoh sufi mahabbah dan ajarannya.................................................................
5
2.4 Mahabbah dalam al-qur’an dan al-hadits .......................................................... 8
2.5 Jenis-jenis mahabbah
(cinta).............................................................................. 9
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAK
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Perasaan cinta tidak akan pernah lepas dari kehidupan
kita. Entah itu rasa cinta terhadap benda dan rasa cinta kepada sang pencipta
Dalam kesempatan kali ini kami ingin sedikit menguraikan pengetahuan kami tentang mahabbah
yaitu katayang digunakan untuk menunjukan pada sesuatu faham atau aliran dalam
tasawuf, yang obyeknya lebih ditunjukan
pada tuhan. Mahabbah memiliki empat jenis yaitu cinta kepada allah, cinta karena allah, cinta bersama allah dan
cinta naluri. Cinta naluri terbagi menjadi tiga yaitu cinta penghormatan dan
penghargaan, cinta kasih sayang dan rahmat
seperti kecintaan kepada anak dan cinta yang dimiliki oleh semua orang.
1.2
Rumusan Masalah
a.
Apa pengertian mahabbah ?
b.
Siapakah tokoh sufi mahabbah dan ajarannya ?
c.
Sebutkan mahabbah dalam al-qur’an dan al-hadits ?
d.
Sebutkan jenis-jenis mahabbah ?
1.3
Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk mempelajari
mahabbah lebih dalam lagi tentang
pengertian mahabbah, alat untuk mencapai mahabbah, tokoh sufi mahabbah
dan ajarannya, mahabbah dalam al-qur’an dan al-hadits serta jenis-jenis mahabbah
(cinta).
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Mahabbah
Mahabbah
adalah Cinta. Hal ini mengandung maksud cinta kepada tuhan. Lebih luas lagi,
bahwa “MAHABBAH” memuat pengertian yaitu :
a.
Memeluk dan mematuhi perintah tuhan dan membenci sikap yang melawan pada
tuhan.
b.
Berserah diri kepada tuhan.
c.
Mengosongkan perasaan di hati dari segala-galanya kecuali dari zat yang
dikasihi.
Artinya :
“katakanlah: “ jika kamu
(benar-benar) mencintai allah, ikutilah aku, niscaya allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu”. Allah maha
pengampun lagi maha penyayang”. (QS. Ali-imran:31)
2
Kata mahabbah tersebut
selanjutnya digunakan untuk menunjukan pada suatu paham atau aliran dalam
tasawuf. Dalam hubungan ini mahabbah obyeknya lebih ditunjukan pada tuhan. Dari
sekian banyak arti mahabbah yang dikemukakan diatas, tampaknya ada juga yang
cocok dengan arti mahabbah yang dikehandaki dalam tasawuf, yaitu mahabbah yang
artinya kecintaan yang mendalam secara ruhani pada tuhan.
Pengertian mahabbah dari segi
tasawuf ini lebih lanjut dikemukakan al-qusyairi sebagai berikut:
Al-mahabbah adalah merupakan
hal (keadaan) jiwa yang mulai yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan)
allah swt, oleh hamba, selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakaan
cintanya kepada yang dikasihi-nya dan yang seorang hamba mencintai allah swt.
Dalam ajaran tasawuf mahabbah
dikaitkan dengan ajaran yang disampaikan oleh seorang wanita sufi yang bernama
Rabiah al-adawiah. Mahabbah adalah paham tasawuf yang menekankan perasaan cinta
kepada tuhan. Tuhan bukanlah suatu zat yang harus diketahui, tapi sebaliknya
sebagi zat yang harus dicintai dan didekati. Untuk dapat mencintai dan dekat
dengan tuhan, maka sekarang harus banyak melakukan peribadatan dan meninggalkan
kesenangan duniwi.
3
Aliran-aliran tasawuf mahabbah
kedudukannya sejajar dengan aliran-aliran tawuf lainnya seperti ma’rifat
(pengetahuan), al-fana dan al-baqa (kehancuran dan ketetapan), dan al-ittihad
(persatuan). Ittihad dapat berbentuk al-qulul (pengambilan tempat) ataupun
al-wujud (kesatuan wujud).
Paham-paham tersebut sering
disebut stasiustsiun (maqamah) yang berada di atas tingkatan tobat, zuhud,
sabar dan tawakal.
Sebab-sebab yang mengutamakan rasa cinta Allah SWT yaitu
:
2.2 ALAT
UNTUK MENCAPAI MAHABBAH
Para ahli tasawuf menjawabnya dengan menggunakan
psikologi, yaitu pendekatan yang melihat adanya potensi rohaniah yang ada dalam
diri manusia. Harun nasution, dalm bukunya falsafah dan mistisis dalam islam
mengatakan, bahwa alat unutuk memperoleh ma’rifat oleh sufi disebut sir ( ). Dengan mengutip pendapat
al-qusyairi, harun nasution mengatakan, bahwa dalam diri manusia ada tiga alat
yang dapat digunakan untuk berhubungan dengan tuhan. Pertama, al-qalb ( ) hati sanubari, sebagi alat
untuk mengetahui sifat-sifat tuhan. Kedua, roh ( ) sebagai alat untuk mencintai
tuhan. Ketiga, sir ( ), yaitu
alat untuk melihat tuhan. Sir lebih halus daripada roh. Kelihatannya sir
bertempat di roh, dan roh timbul
bertempat di qalb, dan sir timbul dan dapat menerima iluminasi dari Allah, kalau
qalb dan roh telah suci sesuci-sucinya dan sekosong-kosongnya, tidak berisi
apapun.
4
Dengan keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa alat
untuk mencintai tuhan adalah roh, yaitu roh yang yang sudah dibersihkan dari
dosa dan maksiat, serta dikosongkan dari kecintaan kepada segala sesuatu,
melainkan hanya diisi oleh cinta kepada tuhan.
Roh yang digunakan
untuk mencintai tuhan itu telah dianugrahkan tuhan kepada manusia sejak
kehidupannya dalam kandungan ketika umur empat bulan. Dengan demikian alat untuk
mahabbah itu sebenarnya telah diberikan tuhan. Yang mengetahui hanyalah tuhan.
2.3
TOKOH SUFI
MAHABBAH DAN AJARANNYA
Aliran mahabbah di pelopori dan
di kembangkan oleh seorang sufi wanita yang bernama Rabi’ah Al-‘Adawiah.
Rabi’ah al-adawiyah adalah seorang zahid perempuan yang amat besar dari
bashrah, di irak. Ia lahir di basrah pada tahun 714 M. Kelahirannya di liputi
bermacam cerita aneh-aneh. Pada malam ketika ia lahir, di rumahnya tidak ada
apa-apa, bahkan minyak untuk menyalakan lampupun tidak ada, juga tidak di temui
sepotong gombal pun untuk membungkus bayi yang baru di lahirkan itu. Ibunya
meminta ayah rabiah supaya pinjam saja minyak
dari tetangga. Ini merupakan suatu cobaan bagi si ayah yang malang. Ayah ini telah berjanji kepada allah untuk tidak
mengulurkan tangannya meminta tolong kepada sesamanya. Namun begitu, ia pergi
juga kepada tetangganya, mengetuk pintu, tetapi tidak mendapat jawaban. Ia merasa lega dan mengucap syukur
kepada tuhan, karena tidak perlu ingkar
janji lalu Ia pulang dan tidur. Malam itu ia bermimpi, nabi muhammad
memberikan tanda kepadanya dengan mengatakan bahwa anaknya yang baru lahir itu
telah ditakdirkan menduduki tempat spiritual yang tinggi.
Robiah kehilangan kedua orang
tuanya waktu ia masih kecil. Ketiga orang kakaknya perempuan juga mati ketika
wabah kelaparan melanda basra. Ia sendiri jatuh ke tangan yang kejam, dan orang
ini menjualnya sebagai budak belia dengan harga yang tidak seberapa. Majikannya
yang baru juga tidak kurang bengisnya.
Si kecil Rabiah menghabiskan
waktunya dengan melaksanakan segala perintah
majikannya. Malam hari di laluinya dengan berdoa. Pada suatu malam,
majikannya melihat tanda kebesaran rohani Rabiah, ketika Rabiah berdoa kepada
allah “ya rabbi, engkau telah membuatku menjadi budak belian seorang manusia
sehingga aku terpaksa mengabdi kepadanya. Seandainya aku bebas, pasti aku
persembahkan seluruh waktu dalam hidupku ini
5
untuk berdoa kepadamu Tiba-tiba tampak cahaya di dekat
kepalanya, dan melihat itu majikannya menjadi sangat ketakutan. Esok harinya
Rabiah dibebeskan.
Setelah bebas, Rabiah pergi
ketempat-tempat yang sunyi untuk menjalani hidup dengan bermeditasi, dan
akhirnya sampailah ia di sebuah gubuk dekat basrah. Di sini ia hidup seperti
bertapa. Sebuah tikar butut, sebuah kendil dari tanah, sebuah batu bata dan
semua itulah yang merupakn keseluruhan harta yang ia punyai. Ia sepenuhnya
mengabdikan diri untuk berdoa, dan tidur sekejap saja sebelum dini hari
meskipun hal ini sangat ia sayangkan.
Ia menerima sebuah pinangan
untuk sebuah perkawinan yang baik. Diantaranya datang dari gubernur basra, juga
dari seorang cuci-mistis yang terkenal hasan basri. Tetapi rabi’ah terlalu
sibuk mengabdikan dirinya kepada Allah, hingga sisa waktunya sedikit sekali untuk urusan duniawi. Karena itulah
semua pinangan ditolaknya.
Rabi’ah punya banyak murid yang
keras, termasuk malik bin dinar, raba al-rais, syakh al balkhi, dan hasan
basra. Mereka sering mengunjungi rabi’ah untuk mendapatkan nasihat atau do’a,
atau untuk mendengarkan ajarannya. Pada suatu hari, subyan suri, seorang yang
saleh dan dihormati datang pada rabi’ah, mengangkat kedua belah tangannya dan
berdo’a: “tuhan yang maha kuasa, saya memohon harta duniawi dari-Mu”. Menagis,
ia menjawab, “harta yang sesungguhnya itu hanya didapat setelah menanggalkan
segala yang bersifat duniawi ini, dan aku melihat anda hanya mencarinya didunia
ini saja”.
Terbetik cerita, ada orang yang mengirim uang
empat puluh dinar kepada rabi’ah. Ia menagis dan mengangkat tangannya keatas,
“Engkau tahu, Ya Allah, aku tak pernah meminta harta dunia dari-Mu, merskipun
kau-lah pencipta dunia ini. Lantas, bagaimana aku dapat menerima yang dari
seseorang, sedangkan uang itu sesungguhnya bukan kepunyaannya?”
Ia melarang murid-muridnya
untuk menunjukan perbuatan baik mereka kepada siapapun. Mereka malahan
diharuskan menutupi perbuatan baik itu, seperti menutup-nutupi perbuatan jahat
mereka.
Cinta rabi’ah yang tulus tanpa
mengharapkan sesuatu pada tuhan, terlihat dari ungkapan do’a-do’a yang
disampikannya. Ia misalnya berdo’a “ Ya Tuhanku, bila aku menyembah-Mu lantaran
takut kepada neraka, maka bakarlah diriku dalam neraka; dan bila aku
menyembah-Mu karena mengharapkan surga, maka jauhkanlah aku dari surga; namun
jika aku menyembah-Mu hanya demi engkau, maka janganlah engkau tutup keindahan
abadi-Mu.
6
Kecintaan rabi’ah pada tuhan
terlihat dari syairnya berikut ini:
Aku mencintaimu dengan dua cinta
Cinta karena diriku dan cinta karena diri-Mu
Cinta karena diriku adalah keadaanku senantiasa
mengingat-Mu
Cinta karena diri-Mu adalah keadaan-Mu mengungkapkan
tabir hingga engkau kulihat
Baik untuk ini maupun untuk itu pujian bukanlah bagiku
Bagi-Mulah pujian untuk kesemuanya.
Dalam syairnya yang lain ia
mengatakan’
Kucintai engkau lantaran aku cinta,
Dan lantaran kamu patut dicintai,
Cintakulah yang membuat rindu kepada-Mu
Demi cinta suci ini, sibakkanlah tabir penutup tatapan
sembahku
Janganlah kau puji aku lantaran itu
Bagi-Mulah segala puji dan puji.
Atas syair-syair tersebut,
al-ghazali mengatakn: “Barangkali yang ia maksud dengan cinta kerinduan itu
ialah cinta kepada Tuhan, karena kasih sayang, rahmat dan iradah Allah telah
sampai kepadanya”. Karena Allah telah menganugrahkan roh, sehingga ia dapat
menyebut dan dekat dengan-Nya.
Syair-syair tersebut ia ucapkan
pada saat telah datang keheningan malam dengan gemerlapnya bintang, tertutupnya
pintu-pintu istana raja dan orang-orang telah terbuai dalam tidurnya. Waktu
malam sengaja dipilih karena pada waktu itulah roh dan daya rasa yang ada dalam
diri manusia tambah meningkat dan tajam, tak ubahnya seorang yang bercinta yang
selalu mengharapkan waktu-waktu malam untuk selalu bersamaan.
7
2.4
MAHABBAH DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITS
Paham mahabbah sebagaimana disebutkan di atas mendapatkan
tempat di dalam al-qur’an . banyak ayat-ayat dalam al-qur’an yang menggambarkan
bahwa antara manusia dengan tuhan dapat saling bercinta. Misalnya ayat yang
berikut ini:
Jika kamu cinta kepada Allah,
maka turutlah aku dan allah akan mencintai kamu.(QS. Ali ‘Imran, 3:30)
Di dalam hadis juga dinyatakan sebagai berikut:
Hambaku senantiasa mendekatkan
diri kepada-Ku dengan perbuatan-perbuatan hingga aku cinta kepadanya. Orang
yang kucintai menjadi telinga, mata dan tanggan-Ku.
Ayat dan hadis tersebut di atas
memberikan petunjuk bahwa antara manusia dan tuhan dapat saling mencintai,
karena alat untuk mencintai tuhan, yaitu roh adalah berasal dari roh tuhan. Roh
tuhan dan roh yang ada pada manusia sebagai anugrah tuhan bersatu dan
terjadilah mahabbah. Ayat dan hadis tersebut juga menjelaskan bahwa pada saat
terjadi mahabbah diri yang dicintai telah menyatu dengan yang mencintai yang
digambarkan dalam teling, mata dan tangan tuhan. Dan untuk mencapai keadaan
tersebut di lakukan dengan amal ibadah yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.
2.5 Jenis-jenis mahabbah (cinta)
Cinta ada empat jenis, yaitu :
1.
Cinta kepada Allah,
yaitu cinta yang merupakan dasar iman dan tauhid.
2.
Cinta karena Allah,
yaitu mencintai nabi-nabi, rasul-rasul dan hamba-hamba-Nya yang sholeh serta mencintai
apa yang dicintai Allah berupa amalan, waktu, tempat dan sebagainya, cinta ini
mengikuti dan menyempurnakan kecintaan kepada Allah.
3.
Cinta bersama Allah, yaitu kecintaan orang-orang musyrik terhadap tuhan-tuhan dan
sembahan-sembahan mereka seperti pohon, batu, manusia dan lain-lain yang
merupakan asal dan dasar syirik.
4.
Cinta naluri,
terbagi atas tiga macam:
§ Cinta penghormatan dan penghargaan, seperti kecintaan
kepada orang tua.
§ Cinta kasih sayang dan rahmat, seperti kecintaan kepada
anak.
§ Cinta yang memiliki oleh semua orang.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Mahabbah adalah Cinta. Hal ini mengandung maksud cinta
kepada tuhan. Lebih luas lagi, bahwa “MAHABBAH” memuat pengertian yaitu :
a.
Memeluk dan mematuhi perintah tuhan dan membenci sikap yang melawan pada
tuhan.
b.
Berserah diri kepada tuhan.
c.
Mengosongkan perasaan di hati dari segala-galanya kecuali dari zat yang
dikasihi.
v Pengertian mahabbah dari segi tasawuf ini lebih lanjut
dikemukakan al-qusyairi
Al-mahabbah adalah merupakan hal (keadaan) jiwa yang
mulai yang bentuknya adalah disaksikannya (kemutlakan) allah swt, oleh hamba,
selanjutnya yang dicintainya itu juga menyatakaan cinya kepada yang
dikasihi-nya dan yang seorang hamba mencintai allah swt.
v Sebab-sebab yang mengutamakan rasa cinta Allah SWT yaitu
:
v Memutuskan interaksi duniawi dan mengeluarkan cinta
kepada selain Allah SWT. Dari hati. Karena hati dapat diibaratkan seperti
sebuah bejana yang tidak akan muat untuk menampung sebuah cuka, umpamaannya,
jika tidak dikeluarkan semua air darinya.
v Kuatnya rasa cinta adalah kuatnya pengenalan Allah SWT.
Keluasannya dan dominasinya terhadap hati. Hal itu dapat terjadi setelah
mensucikan hati dari segala kesibukan duniawi dan berbagai interaksinya,
berjalan seperti peristiwa peletakan sebuah benih di bumi setelah membersihkannya dari rerumputan,
dimana dia merrupakan bagian kedua. Kemudian dari sebuah benih itu tumbuhlah
sebuah pohon cinta da ma’rifat, yaitu kalimah yang baik yang dicontohkanoleh
Allah SWT
v TOKOH SUFI MAHABBAH
Tokoh sufi mahabbah adalah seorang wanita yang bernama Rabi’ah Al-adawiyah
v MAHABBAH DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADIS
·
Al-qur’an
Jika kamu cinta kepada Allah,
maka turutlah aku dan allah akan mencintai kamu.(QS. Ali ‘Imran, 3:30)
·
Hadis
Hambaku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan
perbuatan-perbuatan hingga aku cinta kepadanya. Orang yang kucintai menjadi
telinga, mata dan tanggan-Ku.
v
Jenis-jenis mahabbah (cinta)
Cinta ada empat
jenis, yaitu :
·
Cinta kepada Allah
·
Cinta karena Allah
·
Cinta bersama Allah
· Cinta naluri, terbagi atas tiga
macam:
§ Cinta penghormatan dan penghargaan, seperti kecintaan
kepada orang tua.
§ Cinta kasih sayang dan rahmat, seperti kecintaan kepada
anak.
§ Cinta yang memiliki oleh semua orang.
.
DAFTAR PUSTAKA
Mustofa. Akhlak
tasawuf. 2010. CV Pustaka setia. Bandung.
Nata, abuddin. Akhlak
tasawuf. 2009. PT Rajagrafindo Persada. Jakarta.
Izin share ukhty
BalasHapusBelajar Ilmu mahabbah nabi yusuf bersama Mbak Hidayah ( ustadzah Hidayah ) ==> silahkan Klik Disini <==
Hapusalhamdulillah bisa nambah-nambah ilmu ini, tanks ya bro jadi tau apa itu mahhabah kepada Allah...good job
BalasHapusBelajar Ilmu mahabbah nabi yusuf bersama Mbak Hidayah ( ustadzah Hidayah ) ==> silahkan Klik Disini <==
HapusBelajar Ilmu mahabbah nabi yusuf bersama Mbak Hidayah ( ustadzah Hidayah ) ==> silahkan Klik Disini <==
BalasHapus